Visitors

Wednesday, January 1, 2014

Bersyukur

Hey everybody, how was your new year's eve last night?
are there so many fireworks beat up the sky?
are there so many roasted corn or barbeque you were cook with?
are there so many stories, laughs, and, happiness you were share?
how long are you spend the time with your special person?

Here i'm...
baru bangun setelah menikmati momen pergantian tahun dengan tidur cantik akibat kelelahan.
berada di alam bawah sadar setelah memejamkan mata dan meringkuk dengan mesranya bersama bantal dan kasur adalah hal ternyaman setelah seharian otot dan pikiran terkuras karena segala macam rutinitas.

Well, tertidur sebelum jam berdentang pukul 12 malam adalah hal yang cukup jarang saya lakukan, terlebih ketika kebanyakan orang di setiap sudut tempat meneriakkan "Happy new yeaaar!" dan dihujani kerlap-kerlip kembang api serta deruan terompet yang seakan tiada hentinya menemani malam.
namun entah untuk tahun ini, rasanya kasur dan bantal adalah dua barang yang paling bisa mengalihkan beribu-ribu daftar acara yang ingin saya lakukan di pergantian tahun.

i got overworked, that's the first thing i think of.
hampir setiap hari diliputi rasa lelah, terbangun dari tidur 7 jam yang masih saja belum cukup menghilangkan rasa kantuk, lingkaran hitam tepat di bawah mata, serta kelakuan menguap di setiap jam pelajaran yang terus-terusan berulang selama 5 hari waktu kuliah (plus 2 hari weekend, yang seringkali habis digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas, laporan, dan tanggung jawab organisasi).

Berhubung ini masih hangat-hangatnya pergantian tahun, ada baiknya kalau saya mencoba mem-flashback kejadian setahun kemarin.

Memulai tahun baru di 2013 dengan orang-orang yang saya sayangi, ada mereka teman-teman akrab di kampus yang sering saya sebut "sahabat" tempat dimana rasa lelah dan sedih bisa berubah seketika menjadi gelak tawa untuk berbagi, serta ada mereka juga yang saya sebut "saudara" teman seperantauan yang selalu setia menjadi 'rumah' tempat pulang ketika homesick dan pemilik rasa peduli dan melindungi yang begitu besarnya. beruntung sekali memiliki mereka semua :)

How beautiful the new year begin.
but i don't know how scared the life is, when i don't realize that i still alive.
satu per-satu berubah. lebih tepatnya berjalan tidak sesuai dengan yang saya inginkan.
memutuskan pilihan untuk menjalin hubungan dengan seorang oktoberian di awal tahun, membuat  salah seorang sahabat saya pergi menjauh.
ada begitu banyak pikiran egois yang bertengger di kepala saya, di kepala dia, dan di kepala sahabat saya karena memikirkan perasaan sendiri. mencoba merasa bahwa pikiran saya lah yang paling benar, hingga akhirnya memutuskan segala sesuatu yang pada akhirnya sempat saya sesali.
saat itu dia atau 'mereka' pergi menjauh. sedih sekali rasanya mengetahui bahwa sahabat yang selalu senang berbagi cerita-ceritanya denganmu malah memilih orang lain untuk menceritakan kisahnya, dan sahabat yang selalu mempercayaimu, tidak lagi percaya tentangmu.

Tidak berapa lama setelah itu, seakan dunia saling berkonspirasi untuk memisahkan saya dengan mereka-mereka yang saya sayangi. kali ini mereka yang saya sebut dengan saudara, teman seperantauan, dan berbagi kontrakan bersama harus berpisah karena teror pencuri yang selalu datang mengancam dengan motif balas dendam akan rekannya yang kami jebloskan ke penjara sebab ulah mencurinya tertangkap basah di kamar salah seorang di antara kami. alhasil, kami yang tadinya berpenghuni 14 mahasiswi asal sulawesi selatan dalam satu kontrakan bertingkat dua, harus terpencar-pencar mencari kosan atau kontrakan yang cocok dengan diri masing-masing.

Sampailah saya pada satu kontrakan yang cukup jauh dari kampus, hidup bersama manusia cantik berhati baik namun galaknya minta ampun :p (*ups, non sense)  yang bersedia menampung saya di rumahnya. rumah ini terlalu besar, apalagi penghuninya yang hanya kami berdua.
karena lokasinya yang cukup jauh dari kampus, seringkali saya membawa semua kebutuhan kuliah dan tugas selama sehari agar tidak bolak-balik untuk mengambil barang yang ketinggalan. jadi setelah berangkat kuliah jam 7 pagi, saya pun baru pulang sekitar jam 12 malam ketika semua tugas sudah terselesaikan. terlalu sering membiarkan si empunya rumah sendirian, hingga tidak jarang saya berpikiran bahwa dia merasa kalau sebenarnya saya ini hanya menumpang tidur sebab hampir 20 jam waktu saya dihabiskan di kampus.
it was my opinion. the facts is she always compromise about my hectic activity and really care for my health even though i know that sometimes she need a friend who wants to hear her stories. but i'm the one of person who need the relaxation as soon as possible after the monster of routinity done. i'm sorry.

Rutinitas kampus seakan menjadi raksasa yang tiap hari selalu merenggut waktu istirahat atau libur indah di akhir pekan. keputusan mengambil seluruh peran penting pada dua organisasi berbeda latar belakang dengan masa kepengurusan yang sama membuat semuanya berantakan. tugas keteteran, kuliah kebanyakan ambil jatah, belajar gak konsen, makan gak teratur, kurang tidur, yang semuanya berdampak buruk bagi lingkungan sosial saya.
seketika pula setahun kemarin saya berubah menjadi monster, kata lain yang mencerminkan bukan saya. bukan sesosok yang saya inginkan untuk menjadi.
saya berubah menjadi orang yang skeptis. terlalu sinis menanggapi semua hal, selalu bernegatif thinking, dan rasanya seluruh wajah saya terlihat tegang setiap saat. tidak jarang saya mendapat teguran dari si oktoberian itu atau orang-orang di sekitar saya untuk rileks dan menyunggingkan senyum.
saya sepertinya lupa bagaimana cara bersosialisasi yang baik dengan orang, walau hanya sekedar menanyakan kabar yang terdengar begitu klise. jangankan hal tersebut, sekedar memanggil nama atau pun melemparkan senyum dengan orang yang saya kenal pada saat berpapasan rasanya terasa palsu. saya benci, ketika harus menjadi palsu. tapi saya juga tidak bisa membohongi rasa malas yang entah datang darimana mulai menggerogoti setiap aktivitasku setahun kemarin, even for a little thing.

Hal yang paling tidak saya mengerti adalah ketika tugas-tugas akademik maupun organisasi saya di kampus semuanya menjadi terbengkalai, padahal kebanyakan waktu saya sudah jarang untuk diluangkan bersama teman-teman saya di kampus atau pun menyempatkan diri membuka internet untuk bertegur sapa di dunia maya dengan sahabat-sahabat saya di makassar (apalagi sampai lupa untuk mengucapkan ulang tahun mereka. okay, it's the worst thing. i feel so bad for them). kemana waktu-waktu saya pergi? kenapa rasanya berlangsung begitu cepat? 24 jam dalam sehari sepertinya tidak cukup untuk melakukan semuanya.


Detik ini pun saya sadar, semuanya karena manajemen waktu saya yang tidak baik. saya tidak mampu membagi 24 jam tersebut untuk akademik, sosial, organisasi, hingga beribadah yang selalu didoktrinkan mama sebagai suatu kebutuhan untuk menemukan ketenangan hidup dan rasa bersyukur kepada Sang Pencipta.

kebiasaan yang dulu sering menyusun jadwal tiap harinya menjadi berubah dengan mengerjakan apa saja yang menurut saya ingin saya kerjakan, bukan berdasarkan hal prioritas apa yang seharusnya saya kerjakan. ketidakdisiplinan pada waktu tidak hanya membuat lingkungan sosial maupun akademikku berantakan, tanggung jawabku pada kedua organisasi seringkali kuselesaikan pada detik-detik terakhir deadline. akibat berusaha menerima dua tanggung jawab sekaligus, yang pada awalnya kuperkirakan mampu diselesaikan dengan baik malah membuat semuanya menjadi buruk.

Tidak ada lagi prestasi kerja, tidak ada lagi hasil maksimal untuk setiap tugas-tugas yang telah selesai saya lakukan, namun ada begitu banyak hal yang masih bisa saya syukuri hingga saat ini.

Masih selalu ada sahabat-sahabat yang membagikan tawa candanya dan memberikan pelukan hangatnya, selalu ada si oktoberian itu yang begitu perhatian dan mendukung setiap aktivitasku, selalu ada doa restu dan dukungan materi dari mama dan bapak yang tidak henti-hentinya terus mengalir, serta selalu ada ridho Allah yang bisa membuat segalanya menjadi terasa lebih mudah untuk dilewati.
Alhamdulillahirabbil alaamin, di luar kebiasaan buruk yang banyak terjadi setahun kemarin, hingga saat ini saya masih dipercaya untuk melanjutkan peran penting pada organisasi yang kemarin sempat diamanahkan, semoga dengan kejadian yang kemarin bisa mengantarkan saya menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2014 ini. Pribadi yang mampu me-manage waktu dengan baik agar akademik, organisasi, dan lingkungan sosial saya pun berjalan sesuai dengan yang saya harapkan.
SELAMAT TAHUN BARU semuaaaa. I give you a thousand of hugs for every little attention you given to me. I love you.

Sunday, December 29, 2013

Quote #1

"Jujur memang tidak selalu menyenangkan karena terkadang kejujuran itu akan menyakitkan orang lain. Tapi, seorang sahabat pasti bisa memahami kejujuran itu walau terkadang membutuhkan waktu untuk menerimanya.
Sahabat bukan orang yang ada ketika kamu sedih, tapi sahabat adalah mereka yang paling bahagia, lebih dari kebahagiaan yang kamu rasakan ketika melihat kebahagiaanmu."


Pssst...!
5 sahabat, 5 negara, 5 rahasia
(Page 75, last paragraph.)

Sunday, July 28, 2013

Untitled


Nama lengkap saya Ratu Hardiyanti Supriyadi Putri namun kebanyakan orang orang akrab menyapa saya dengan panggilan 'Ratu', 'Tu', atau 'Toe'. Seorang mahasiswi 18 tahun asal kota Makassar yang sedang mengenyam pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor. Pada tahun ajaran baru yang akan berlangsung di bulan September 2013 nanti saya akan duduk di tingkat tiga, tepatnya semester lima. Saya anak kedua dan putri satu-satunya di keluarga saya. Namun ketika akhirnya kakak saya harus lebih dulu menghadap Sang Pencipta, maka saat itu pula saya menjadi anak tertua. Tumbuh dan berkembang sebagai anak yang paling tua dan memiliki seorang adik laki-laki sedikit banyak membentuk kepribadian saya menjadi seorang yang mandiri.
Sejak duduk di Taman Kanak Kanak, kedua orang tua saya sudah membiasakan saya untuk pulang pergi sekolah dengan jemputan seorang tukang becak langganan. Hal itu berlanjut saat saya masuk ke salah satu sekolah dasar negeri dimana Ayah juga telah mendaftarkan saya pada mobil antar-jemput karena lokasi rumah yang cukup jauh dari sekolah. Mengenyam pendidikan sejak awal, menjadikan saya lulusan terbaik saat Taman Kanak-kanak dan selalu memperoleh peringkat pertama di kelas selama 6 tahun berturut-turut. Hal itu membuat Ayah saya berkeinginan untuk memasukkan saya ke SMP Negeri terfavorit di kota Makassar dan memilih kelas percepatan atau yang lebih dikenal Akselerasi. Dengan kepercayaan diri serta doa dan dukungan yang besar dari kedua orang tua, maka Alhamdulillah saya berhasil masuk ke sekolah tersebut dan bisa menyelesaikan jenjang sekolah menengah pertama hanya dalam waktu dua tahun dan akhirnya melanjutkan ke salah satu SMA Negeri favorit di kota yang sama pula, juga berkat pilihan Ayah saya dengan pertimbangan bahwa biaya sekolah disana jauh lebih murah dari SMA lain, namun kualitas pendidikannya tidak kalah bersaing di kota Makassar.
Hal tersebut membuat saya sedikit kecewa karena berencana untuk melanjutkan pendidikan SMA ke sekolah menengah atas tertua yang ada di kota Makassar atau sekolah yang juga menyediakan kelas Akselerasi pada tingkatannya. Tetapi seiring bertambahnya umur saya, saya mulai menyadari bahwa kondisi perekonomian keluarga mulai berubah sejak kantor tempat Ayah bekerja sebelumnya harus gulung tikar. Saya tidak boleh egois karena ada Wira adik saya, yang juga harus dibiayai pendidikannya.  Oleh karena itu, saya menerima saran Ayah untuk melanjutkan pendidikan ke SMA negeri pilihannya tersebut. Alhamdulillah lagi, tanpa hambatan apapun saya berhasil menjadi siswi di sekolah tersebut.
Menjadi seorang siswi SMA saat itu membuat saya sangat tertarik dengan dunia organisasi yang belum pernah saya rasakan saat duduk di bangku SD atau pun SMP. Saya pun segera bergabung dengan dua ekskul yang menarik minat saya yaitu Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) dan Fiery (Five English Generation Community). Bergabung sebagai anggota yang aktif mengantarkan saya menjadi pengurus inti pada kedua ekskul tersebut dan tidak jarang turut menyumbang prestasi. Tetapi saat itu saya menyadari,  besarnya kontribusi saya pada kegiatan ekskul membuat nilai-nilai atau prestasi akademik saya jauh menurun dibandingkan saat SD atau pun SMP. Namun meski sadar seperti itu, saya masih saja sibuk mengurus ekskul dan agak sedikit melupakan nilai akademik saya yang terbilang cukup pas-pasan. Walau akhirnya saya masih tetap bisa bersyukur karena menjadi sebagian dari seluruh siswa/i kelas 3 yang memperoleh jalur SNMPTN Undangan meski sistemnya baru dimulai tahun itu.
Saya sempat dilanda kebingungan antara melanjutkan ke Jurusan Manajemen yang saya minati atau Jurusan Kedokteran yang sangat diinginkan oleh Ayah. Saya pun menyadari bahwa sejak kecil Ayah memegang kendali untuk pendidikan saya. Saya hanya dibiarkan mengikuti keinginan beliau dan merasa senang jika bisa mengabulkannya. Namun itu semua karena beberapa dari keinginan Ayah adalah keinginan saya juga. Saat itu, kuliah di jurusan Kedokteran benar-benar tidak ada lagi di kepala saya sejak duduk di bangku SMA. Saya merasa tidak ingin lagi berkutat dengan dunia sains dan ingin berfokus ke bidang sosial meski saya adalah lulusan IPA.
Dilanda kebingungan seperti itu membuat saya hanya bisa mengadu ke Ibu dan beliau pun menyuruh saya untuk memantapkan hati dan berdoa kepada Allah melalui istikharah. Beberapa minggu setelah itu, entah kenapa hati saya tergerak untuk melirik jurusan Pertanian sejak membaca biografi Rady A Gani, mantan Bupati Wajo (salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan) yang bisa berkeliling dunia dengan gelar sarjana pertaniannya dan beliau pun bangga dengan hal tersebut.
Saya pun mengungkapkan rencana saya kepada Ibu untuk memantapkan pilihan ke Jurusan Pertanian dan memilih Institut Pertanian Bogor dengan keinginan klise saat SMA bahwa kelak ketika kuliah nanti saya harus menempuh pendidikan di Pulau Jawa agar bisa lebih banyak mengenal lingkungan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ibu hanya menyarankan saya agar tetap berdoa agar dilancarkan semuanya.
Ketika pengumuman SNMPTN Undangan berlangsung, betapa bersyukurnya saya karena berhasil menjadi salah satu dari puluhan ribu calon mahasiswa yang berhasil lulus lewat jalur ini. Ayah yang awalnya ingin sekali saya menjadi Dokter saat itu juga terlihat sangat bangga. Ayah sadar bahwa ia tidak bisa lagi menentukan pendidikan saya seperti saat saya masih duduk di bangku TK hingga SMA. Kuliah bukan lagi tempat yang bisa ia jamah sebab kata Ayah kelak yang akan menjalankan seterusnya dan bertanggung jawab atas semuanya adalah diri saya sendiri. Saya hanya bisa terus bersyukur atas dukungan dan kemudahan yang saya peroleh dalam bidang pendidikan selama ini, sebab saya percaya bahwa itu semua tidak terlepas dari doa dan ridho kedua orang tua saya.  Saya yakin sesungguhnya di ridho kedua orang tua saya, ada ridho Allah di dalamnya.
Saat ini waktu luang saya banyak diisi dengan mengikuti organisasi dan kepanitiaan di kampus, juga sering aktif di media sosial dan menulis jurnal pribadi online. Kelak ketika telah menyelesaikan pendidikan di Institut Pertanian Bogor, saya masih berencana untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang strata dua. Saya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke Wageningen Universiteit di Belanda atau Sidney Univesity di Australia, tentunya pada bidang pertanian dengan spesialisasi tanaman hias atau hortikultura melalui program beasiswa yang ditawarkan. Semoga dengan semua yang telah dan kelak akan saya peroleh dapat mengantarkan saya berkeliling dunia dan bermanfaat bagi orang banyak dengan peran saya sebagai duta Indonesia untuk FAO PBB. Aamin.

Friday, June 28, 2013

when i miss smunel.




Like the others said that senior high school was the moment when you wanna return to over and over again, and also i'd like too. It's not about the school which gave knowledges, about the organization's which gave  many experiences, neither about the good friends nor the quality times with all of them.


I just wanna felt the atmosphere before. 
Felt become the luckiest teenager in the world, wasted most of time with bestfriends, doing things never done before, and claim that we were the greatest people with the thought that we were better than childrens who loves to whining or crying, and we grew better like people in 20 y.o at the time. So there was no reason to restricted us to did anything because we knew what was the best for us.


Now here i'm, always realize that "senior high school" is the precious moment whose drive me towards more a maturity :)

Sunday, May 26, 2013

Tebing

Ingin rasanya meruntuhkan tebing itu.
Menunjukkan pada orang semua yang tersembunyi dibaliknya.
Begitu banyak rahasia yang tidak diketahui mereka.
Begitu banyak cerita klise yang sudah diperdengarkan.
Terlalu naif untuk ditunjukkan.
Kata mereka saja menuntut kejujuran.

Hingga waktunya tiba, mereka juga akan pergi karena kejujuran.

Saturday, April 27, 2013

say it with flower


"Flower is not just about something, flower is meaning of anything"- anonymous.

I was thinking that flower is some-mainstream-thing like another else, at the beginning. If you need to say something for someone, you can say it directly. But sometimes, there is another thing that you can’t do and all the things you need just show her immediately. So, the flower is one of them exactly.
I got some flower today. It was making me very surprised cause the person who gave me isn’t romantic at all. He is an easy going person and didn’t like to do something charitable. He like to do anything with his own way. So when finally he was doing something with people’s way, I was feeling embarrassed and grateful cause his effort. I was so appreciated his way to say something and show it with the flower.
So much thank you, S. Lovin' it.

Monday, April 1, 2013

the reason (?)


I love to standing on the rain. 
source : www.moxiefabworld.com

'cause when it happens, 
no one can see me crying.